Keanehan Fenomena TERORISME di Indonesia

Peristiwa teror bom di JW Marriott dan Ritz Carlton terus bergulir seperti “bola api” yang meluncur tak terkendali. Bukan hanya pengelola 2 hotel itu yang dirugikan, atau para korban yang mati dan terluka. Islam dan kaum Muslimin juga PANEN FITNAH akibat aksi teror yang didalangi manusia-manusia “sakit” itu.

Akal ratusan juta masyarakat Indonesia selama berminggu-minggu dicekoki secara intensif oleh isu teror dan kekacauan opini. Tanpa disadari, isu teror itu telah menciptakan ketakutan publik yang sangat massif. Berita perburuan, penangkapan, penahanan, interogasi, penyerbuan, penembakan, pengepungan, pengrusakan, razia di jalan, kampanye keamanan, dll. menjadi makanan sehari-hari. Belum lagi munculnya sikap curiga, prasangka buruk, fitnah, serta tindakan-tindakan boikot sosial kepada orang-orang tertentu yang tampak memiliki “ciri teroris”. Satu bukti nyata ialah penggerebekan di Temanggung beberapa waktu lalu. Ia benar-benar menimbulkan kecemasan besar di hati masyarakat. Alih-alih menimbulkan efek jera bagi teroris, masyarakat justru semakin ciut hatinya melihat sikap berlebihan aparat keamanan dalam operasi di Temanggung itu. Mereka berpikir, “Bagaimana kalau kami yang diperlakukan seperti itu?”

Selain itu, ajaran Islam sendiri menjadi olok-olok banyak orang. Konsep negara Islam (Daulah Islamiyyah), sistem Kekhalifahan Nabi, Jihad Fi Sabilillah, pedoman Al Qur’an dan Sunnah, ideologi Islam, Syariat Islam, dll. hari ini menjadi bulan-bulanan manusia-manusia BERLIDAH API. Mereka manfaatkan isu terorisme untuk menyerang Allah dan Rasul-Nya, melecehkan ajaran Islam, menghina warisan sejarah Islam, dan menebarkan fitnah-fitnah luar biasa.

Betapa keji perbuatan manusia-manusia nista itu. Mereka sudah tahu, bahwa selama itu berbagai kalangan Islam telah susah-payah menjelaskan, bahwa ISLAM TIDAK MENGAJARKAN TERORISME. Terorisme itu cara pengecut, bukan sikap kesatria. Islam mengajarkan sikap adil, bukan menjadi pengecut. Tetapi manusia-manusia nista itu tetap saja menyerang Islam, menyerang Daulah Islamiyyah, menyerang para Mujahidin, menyerang ideologi Islam, menyerang ajaran Nabi Saw, menyerang Allah dan Rasul-Nya. Padahal semua simbol-simbol kesucian Islam itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan TERORISME.

Bagaimana mungkin, agama ALLAH yang MAHA SUCI dipaksa bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan teror hina? Sungguh, andai kita mendiamkan masalah ini, tanpa memberi peringatan, mungkin bangsa ini akan dihujani batu dari langit karena kebejatan moral elit-elit tertentu yang gemar menistakan agama Allah. (Termasuk karena aksi “diam 1000 bahasa” para politisi yang selama ini mendapat jabatan dan kepuasan syahwat setelah menjual agama dengan harga murah).

Maka para dai harus berbuat sesuatu, sekuat kesanggupannya, untuk menghindari adzab Allah yang akan ditimpakan kepada bangsa yang durhaka. Kita harus menegakkan IZZAH ISLAM, ketika manusia-manusia berhati syaitan berlomba ingin merobohkan izzah itu. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

OFENSIF KEPADA ISLAM

Kita semua mengutuk keras perbuatan teror bom di JW Marriot dan Ritz Carlton. Saya yakin, meskipun ada 1000 aksi peledakan semacam itu di 1000 hotel milik Amerika atau Inggris. Ia tidak akan menolong Islam dan juga tidak akan berhasil mengalahkan musuh-musuhnya. Malah, bisa jadi setelah itu Islam akan didefinisikan secara mutlak sebagai terorisme. Aksi-aksi teror tidak banyak gunanya. Namun kenyataan yang sangat menyakitkan, lewat aksi-aksi teror itu, Islam dan kaum Muslimin sering sekali menjadi sasaran FITNAH.

Para pakar, pengamat, ahli intelijen, mantan anggota JI, pejabat kepolisian, politisi, dan lainnya, mereka sering mengakui bahwa aksi terorisme tidak ada kaitannya dengan ajaran Islam (agama). Hal itu mereka katakan berulang-ulang di banyak kesempatan. Tetapi setelah itu, mereka akan mulai menyerang ajaran-ajaran Islam, seperti Jihad Fi Sabilillah, Daulah Islamiyyah, Khilafah Nubuwwah, Syariat Islam, para Mujahidin, dan lain-lain. Sebagian mulut mereka mengakui bahwa Islam tidak ada kaitannya dengan terorisme, tetapi sebagian yang lain tidak henti-hentinya menyerang agama Allah. Ini merupakan bukti KEMUNAFIKAN telanjang.

Media-media massa (terutama media TV), tidak kalah brutalnya dalam menciptakan kekacauan opini. Salah satunya adalah TVOne. Dalam berita-berita yang terkait penemuan bahan peledak di Jatiasih Bekasi, TVOne selalu mengakhiri pembacaan skrip beritanya dengan mengatakan bahwa bom itu akan diledakkan di rumah kediaman SBY di Cikeas. Tetapi mereka tidak menyebutkan bukti apapun atas klaim itu. Begitu pula, mereka secara bombastis membuat liputan tentang penyerangan Densus 88 di Temanggung. Ternyata, banyak data-data mereka yang salah. Sungguh sangat memalukan. Selama puluhan jam mereka mendoktrin pikiran ratusan juta masyarakat dengan info-info palsu seputar penggerebekan Temanggung. Termasuk disini, TVOne kerap mendatangkan mantan-mantan anggota JI sebagai narasumber. Andai organisasi yang disebut JI itu memang ada, yang didatangkan rata-rata orang aneh. Mereka tidak tampak sikap cemburunya ketika Islam disudutkan secara sistematik melalui pernyataan-pernyataan tendensius.

Untuk kesekian kalinya, kita mendapati kenyataan yang sama. Setiap pasca peledakan bom, Islam selalu diserang. Menariknya, Islam diserang setelah para ahli atau pakar mengakui bahwa aksi-aksi teror itu tidak ada kaitannya dengan agama (Islam). Seakan, pengakuan mereka itu merupakan ucapan “permisi” sebelum menyerang Islam sepuas-puasnya. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

DESAIN KASUS TEROR

Kalau Anda cermati dengan seksama kasus-kasus teror bom di Indonesia sejak Bom Bali I, 12 Oktober 2002. Disana Anda akan menemukan DESAIN STANDAR di balik aksi-aksi teror itu. Sejujurnya, saya tidak ingin mengungkap masalah ini. Tetapi karena nilai-nilai ajaran Islam selalu menjadi sasaran ofensif yang sangat keterlaluan, dengan terpaksa kita harus mengungkapkannya.

Desain teror itu bisa dilihat dari sekian banyak kasus teror bom sejak Bom Bali I. Coba perhatikan lagi aksi bom JW Marriott I, bom Kuningan, bom di depan Kedubes Filipina, Bom Bali II, dan lainnya. Nanti Anda akan mendapati bahwa kasus-kasus itu memiliki kesamaan satu sama lain.

Berikut ini aspek-aspek kesamaannya:

[1] Kasus-kasus teror bom di Indonesia rata-rata terjadi setelah peristiwa WTC, 11 September 2001. Malah teror Bom Bali I terjadi pada 12 Oktober 2002 (angka-angka pada tanggal, bulan, dan tahunnya masing-masing naik 1 poin dari tanggal peristiwa WTC, 11 September 2001).

[2] Seluruh serangan teror dilakukan dengan serangan bom. Padahal kalau ingat kasus-kasus di tahun 80-an, seperti peledakan BCA, peledakan Borobudur, serangan di Cicendo, pembajakan pesawat, dll. para pemuda radikal menempuh cara-cara yang bervariasi.

[3] Sebagian besar aksi teror bom dilakukan dengan metode bom manusia (human bomb). Ada yang membawa bom di tubuhnya, ada yang meledakkan bom di mobil. Tidak ada satu pun serangan yang dilakukan dengan senapan api. Padahal menurut logika, serangan bom jauh lebih rumit prosesnya ketimbang senjata api. Oleh karena itu, para bandit dan pelakukcriminal, mereka lebih suka memakai senjata api saat beraksi, karena dianggap lebih praktis dan mudah.

[4] Seluruh aksi teror itu semuanya dilakukan karena alasan yang sama, yaitu sikap anti Amerika, menyerang simbol-simbol kepentingan Amerika, atau sebagai bentuk aksi balasan atas kezhaliman Amerika dan Yahudi di dunia Islam. Padahal di era 70 atau 80-an, kasus Jamaah Imron, Komando Jihad, NII, dll. rata-rata karena alasan lokal dan konflik politik.

[5] Fakta yang sangat menarik, aksi-aksi bom itu semua terjadi dengan selang waktu tertentu. Antara satu kejadian bom dengan kejadian teror lainnya, terpisah oleh jarak waktu. Setidaknya satu tahunan. Bahkan dalam kasus JW Marriot dan Ritz Carlton, ia terjadi berselang 4 tahun sejak Bom Bali II. Katanya, teroris memiliki jaringan yang luas, kader ribuan orang, dukungan finansial yang hebat, tetapi aksi-aksinya tidak pernah meletus secara kolektif. Hanya terjadi sekali sekali dalam rentang waktu cukup lama. Bandingkan dengan IRA di Irlandia, atau Basque di Spanyol. Mereka bisa membuat aksi-aksi yang berkesinambungan.

[6] Aksi-aksi teror bom itu rata-rata bisa diungkap pelakunya dan ditangkap orang-orang yang terkait dengannya. Hampir setiap pasca teror bom, kepolisian selalu PANEN penangkapan pelaku. Itu membuktikan bahwa kerja kepolisian selalu berhasil, efektif mengungkap kasus terorisme, dan kerja intelijen mereka sangat mumpuni. Lalu pertanyaannya, dengan kemampuan seperti itu, mengapa mereka selalu kecolongan, sehingga aksi-aksi bom itu selalu terulang? Mengapa harus terjadi teror bom dulu, baru mereka menunjukkan kehebatannya? Kalau mereka hebat, harusnya bisa menangkal aksi-aksi teror itu.

[7] Dari aksi-aksi teror selama ini, para aparat tidak keberatan jika isu terorisme menjadi konsumsi umum. Malah mereka bersikap obral informasi kepada media-media massa. Tidak ketinggalan, mereka melakukan kampanye anti terorisme secara massif. Lihat poster-poster Dr. Azahari dan Nordin M. Top yang disebar-sebar sampai ke pelosok kampung. Ini aneh. Kalau memang targetnya menyelesaikan masalah terorisme, seharusnya mereka bekerja dengan metode “silent operation”. Semakin terbuka isu-isu terorisme itu, semakin sulit teratasi. Apalagi isu terorisme termasuk kategori high security level. Dengan cara publikasi besar-besaran itu malah efektif melahirkan kader-kader teroris baru. Bukan mustahil, para pemuda senang menjadi teroris, karena dijamin akan populer. Perlu dicatat, popularitas Nordin M. Top selama ini bisa mengalahkan selebritis yang manapun.

[8] Aksi teror bom di Indonesia rata-rata dilakukan oleh tangan-tangan misterius. Indikasinya, pelaku teror itu sendiri tidak jelas, siapakah mereka? Dari mana asal kelompoknya? Serta apa tujuan aksinya? Tidak ada satu pun pelaku teror di Indonesia secara kesatria mau mengklaim bertanggung-jawab atas serangan-serangan teror yang mereka lakukan. Itu terjadi sejak Bom Bali I tahun 2002 sampai saat ini. Kalau ada yang mengaku bertanggung-jawab, ia adalah surat fiktif seperti yang beredar di internet beberapa waktu lalu. Selama tidak ada pihak yang mengaku bertanggung-jawab secara resmi, dapat dipastikan bahwa persistiwa-peristiwa teror di Indonesia selama ini merupakan aksi KONYOL secara mutlak.

Anda perhatikan dengan baik, bahwa kasus-kasus teror bom ini memiliki DESAIN TERTENTU. Sejak peristiwa Bom Bali I sampai bom JW Marriott dan Ritz Carlton, polanya SAMA. Bahkan karena pola yang sama tersebut, kita dengan mudah bisa membaca kemana arah penggiringan opini setelah aksi-aksi teror ini.

Kalau melihat seluruh rangkaian aksi teror bom secara cermat, kita akan mendapati disana suatu DESAIN STANDAR. Namun kalau melihatnya kasus per kasus, bentuk desain itu akan sulit terbaca. Apalagi kalau otak kita sudah dipasrahkan secara total kepada informasi yang bersumber dari aparat dan opini-opini media massa, jelas lebih sulit lagi menemukan benang-merahnya.

Dalam Pembukaan UUD 1945 disebutkan, bahwa negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah rakyat Indonesia. Seharusnya negara bertanggung-jawab menjaga kepentingan rakyat, secara lahir-bathin, moral dan material. Itu amanah Konstitusi yang harus ditunaikan. Tetapi aneh, di negeri yang mengklaim “Berketuhanan Yang Maha Esa” ini, rakyat justru sering “dikerjain” oleh negaranya sendiri. Dan lebih mengherankan lagi, rakyat kita justru “kecanduan” ingin terus diperdaya. Buktinya, meskipun kasus teror bom sudah sering terjadi, tetap saja mereka mudah ditipu oleh permainan opini.

INDONESIA SEBAGAI TARGET

Amerika tidak memasukkan Indonesia dalam kategori Axis of Evil (negara poros kejahatan). Selama ini yang masuk kategori itu Iran, Irak, dan Korea Utara. Tetapi bukan berarti posisi Indonesia menjadi tidak penting. Di negeri ini banyak perusahaan-perusahaan besar Amerika yang beroperasi. Mereka menambang kekayaan negeri kita, lalu hasilnya diangkuti ke luar negeri.

Sebagai perbandingan, demi menguasai ladang-ladang minyak di Irak, Amerika melancarkan invasi ke Irak sejak tahun 2003 lalu. Demi mengamankan pasokan minyak dari Asia Tengah, Amerika harus meruntuhkan Pemerintahan Thaliban di Afghanistan. Adalah BODOH bin KONYOL, kalau Amerika meremehkan posisi perusahaan-perusahaan mereka di Indonesia.

Ketika terjadi Bom Bali I, 12 Oktober 2002, seketika itu Indonesia masuk dalam scenario besar perang melawan terorisme (war against terrorism) yang dikomandoi Amerika. Aksi bom mobil yang dilakukan Imam Samudra dkk. di depan Paddy’s Club itu seakan menjadi “PROSES AKAD” untuk memasukkan Indonesia ke dalam perangkap perang global anti terorisme. Bisa jadi, Imam Samudra dkk. berniat baik atau sedang berijtihad. Tetapi mereka tidak sadar kalau gerakannya sedang dikendalikan oleh BIG HANDS yang bermain di balik layar.

Kerugian akibat Bom Bali I di Paddy’s Club oleh Imam Samudra dkk. tentu saja besar. Selain kerugian materi, juga nyawa-nyawa manusia yang mati dan korban yang menderita luka-luka dan cacat. Tetapi kerugian lahir bathin yang menimpa Ummat Islam setelah Bom Bali I itu mungkin 1000 kali lebih perih dari kesengsaraan yang diderita para korban. Sejak saat itu, Ummat Islam Indonesia, khususnya para aktivis dakwah Islam terus-menerus dihantui isu terorisme.

Fakta yang sangat menakjubkan. Setelah Bom Bali I, Pemerintah RI merestui dibangunnya MONUMEN BESAR di Legian Kuta Bali, di sisa peledakan bom. Dengan monumen itu masyarakat Indonesia dan dunia diingatkan, bahwa Indonesia merupakan negara yang rawan terorisme. “Kalau tidak percaya, monumen inilah buktinya,” begitu logikanya. Seharusnya, teror Bom Bali itu merupakan duka, maka jangan diingat-ingat terus. Tetapi aneh, teror itu justru terus dikenang, sehingga memori buruknya benar-benar terpatri di otak masyarakat. Kenyataan yang sama terjadi di New York. Pemerintah AS mendirikan monumen “zero ground” untuk mengenang Tragedi WTC, 11 September 2001. Dan Bom Bali, terjadi 12 Oktober 2002. Nilai tanggal, bulan, dan tahunnya, berselisih 1 poin dengan peristiwa WTC. Apakah semua ini terjadi secara kebetulan?

Sebagai perbandingan, untuk peristiwa sedahsyat Tragedi Tsunami di Aceh yang angka korbannya ratusan ribu jiwa; gempa bumi Yogya yang korbannya sekitar 5000-an orang; atau gempa lumpur Lapindo yang meneggelamkan desa-desa dan membuat ribuan orang hidupnya sengsara; Pemerintah RI tidak tergerak untuk membangun monumen sosial sebagai peringatan. Padahal bencana Tsunami, gempa Yogya, lumpur Lapindo, atau Situ Gintung, lebih layak diingat-ingat, agar masyarakat insyaf dengan dosa-dosanya. Tapi aneh, untuk kasus-kasus terorisme yang nilai korbannya lebih kecil, kok dibuat monumen besar?

MAKNA STRATEGIS TERORISME

Kasus-kasus terorisme di Indonesia memiliki makna strategis. Di balik kasus-kasus teror bom yang terjadi selama ini terdapat banyak keuntungan politik yang diperoleh negara-negara asing, khususnya Amerika.

Pertama, dengan masuk skenario perang global melawan terorisme, Indonesia akan diidentifikasi sebagai negara yang rawan keamanan. Dari sisi bisnis, investasi, perdagangan, citra diplomasi, kerjasama internasional, dll. Indonesia mendapat nilai minus. Pemerintah Malaysia sejak WTC 2001 menolak masuk ke dalam skenario perang anti terorisme, maka negara itu sampai saat ini baik-baik saja.

Harusnya, ketika terjadi kasus teror bom, Pemerintah RI bekerja keras meyakinkan dunia internasional bahwa kasus bom itu bukan terorisme. Bisa saja, mereka melakukan kebohongan besar untuk menutup-nutupi kasus terorisme. Tidak apa-apa berbohong, untuk menghindari vonis terorisme. Tetapi ini lain, isu terorisme malah ditumbuh-kembangkan dengan giat. Malah negara mengeluarkan biaya dari APBN untuk menyukseskan kampanye anti terorisme. Lihat saja, negara membangun Densus 88 dengan biaya besar. Mereka menyebar poster Dr. Azahari dan Nordin “Ngetop” ke seluruh pelosok negeri. Pemerintah kita seperti sangat menikmati negaranya dituduh sebagai “sarang teroris”.

Kedua, kasus-kasus terorisme itu sangat menguras energi masyarakat. Karena terus memperhatikan masalah itu, mereka lupa dengan agenda-agenda besar di depan matanya. Isu-isu seperti kemiskinan, kemandegan dunia usaha, pengangguran, neoliberalisme, rendahnya kualitas SDM, buruknya kualitas pendidikan, kriminalitas, dekadensi moral, perpecahan sosial, separatisme, dll. sebenarnya lebih utama untuk diperhatikan. Tetapi karena rakyat terus dihujani “PR” dalam bentuk isu terorisme, mereka terlupa dengan agenda kehidupannya sendiri.

Ketiga, kasus-kasus terorisme itu sangat efektif untuk menyibukkan perhatian masyarakat, sehingga mereka lupa dengan eksistensi perusahaan-perusahaan multi nasional  yang terus mengangkuti kekayaan nasional. Pikiran masyarakat tersihir oleh pesona Nordin “Ngetop” yang tidak kunjung tertangkap. Kalangan kritis mungkin tetap peduli, tetapi sebagian besar masyarakat masih–maaf- bodoh-bodoh. Mereka mudah tertipu oleh opini-opini media.

Singkat kata, isu-isu terorisme ini sama sekali tidak bermanfaat bagi Ummat Islam. Semakin kita tekun membicarakan masalah itu, maka kita telah masuk skenario yang diinginkan BIG HANDS yang membuat isu itu sendiri. Kecuali kalau kita peduli dalam rangka mengingatkan masyarakat agar tidak tertipu.

SEKEDAR SARAN

Saya menyarankan kepada Ummat Islam untuk melupakan isu terorisme, untuk mengabaikannya, dan TIDAK PERCAYA opini apapun yang dikembangkan seputar kasus-kasus teror bom itu. Jangan percaya omongan para pakar, termasuk mereka yang mengklaim mantan anggota JI. Jangan percaya opini-opini sepihak yang biasa disebarkan media-media massa. Yakini, bahwa kasus-kasus teror bom itu tidak terjadi secara alamiah, tetapi sebagai hasil pembentukan opini.

Sebagai kaidah paling mudah untuk menolak isu terorisme: Lihatlah kehidupan riil Anda sendiri! Apakah dengan peduli terhadap berita-berita terorisme, kehidupan Anda menjadi semakin maju, semakin sejahtera, semakin sehat, semakin kaya ilmu, semakin harmonis, semakin sakinah dalam keluarga, dan lain-lain? Jika ternyata tidak ada pengaruhnya, berarti kasus terorisme itu memang tidak berguna sama sekali untuk diperhatikan.

Mungkin akan ada yang membantah, “Ya, kita harus peduli dengan terorisme. Siapa tahu, pelakunya ada di sekitar kita? Atau jangan-jangan kita sendiri yang nanti akan menjadi korban aksi terorisme?”

Jawabnya: Negara sudah punya aparat resmi yang menangani masalah itu, jadi serahkan saja urusan pengamanan kepada mereka. Itu wewenang mereka. Adapun kalau nanti kita menjadi korban aksi itu, berarti pelakunya adalah orang zhalim, kelak Allah akan menghukumnya. Adapun untuk menghindari musibah itu, sering-seringlah meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala. (Contoh doa: Allahumma inna nas’alukal ‘afiyah fid dunya wal Akhirah. Ya Allah kami memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan Akhirat).

Saudarku, sungguh lupakan saja masalah terorisme ini. Jangan dibahas, jangan dibicarakan, jangan didiskusikan. Kecuali untuk memberi peringatan kepada Ummat. Percayalah kepadaku, bahwa isu TERORISME ini hanyalah salah satu agenda besar “Dajjal masa kini”. Ini adalah agenda penipuan “Si Dajjal”.

Anda masih ingat slogan George Bush: “You are with Us, or with terrorist?” Atau slogan: “Stick or carrot!” Slogan itu identik dengan tipu daya Dajjal yang disebutkan oleh Nabi Saw. Kata Nabi, Dajjal nanti menawarkan kepada manusia dua pilihan, syurga dan neraka. Siapa yang memilih “syurga Dajjal”, mereka akan sengsara; Siapa yang memilih “neraka Dajjal”, mereka akan hidup damai. Di hari ini kita mendapati fakta serupa. Siapa yang memilih carrot George Bush, mereka akan sengsara; dan siapa yang memilih stick George Bush, mereka akan selamat.

Seharusnya, kita jangan mau ditipu oleh iming-iming “wortel” milik George Bush. Kita harus berani menghadapi resiko “tongkat” George Bush. Karena Pemerintah RI memilih mendapat “wortel”, konsekuensinya kita semua hari ini terlunta-lunta dalam skenario perang global anti terorisme. Kalau sejak awal kita berani menolak kemauan tekanan Amerika, meskipun diancam sanksi, insya Allah kita akan selamat.

PENIPUAN BESAR “Dajjal MODERN”

“Dajjal modern” itu telah menipu ummat manusia sedunia dengan kasus WTC, 11 September 2001. Mereka mengklaim, dua menara kembar WTC hancur dalam beberapa menit setelah ditabrak oleh pesawat-pesawat yang dibajak anak buah Usamah bin Ladin. Itulah opini yang didoktrinkan ke akal-akal manusia sedunia.

Demi Allah, gedung sekokoh WTC tidak akan hancur dalam sekejap, sekalipun ditabrak oleh 10 pesawat sipil secara bersamaan. Gedung itu sangat kuat, sebab ia menjadi gedung sekaligus menara. Para pembangun gedung itu bukan orang TOLOL yang akan membiarkan gedungnya rusak dengan mudah. Perlu dicatat, setiap gedung tinggi pasti memiliki resiko tiupan angin dari berbagai arah. Kalau seluruh tenaga dari tiupan angin yang menimpa satu sisi menara WTC dijumlahkan, nilainya jauh lebih kuat dari daya dorong akibat benturan dengan pesawat. (Tiupan angin lebih kuat dari pesawat yang terbang, sekalipun ia berbadan besar dan terbang dalam kecepatan tinggi. Buktinya, angin bisa mengayun-ayunkan pesawat di udara, bahkan menghempaskannya sampai jatuh).

Hancurnya double tower WTC dalam sekejap hanyalah bisa terjadi dengan cara peledakan secara terkendali. Caranya, dalam gedung itu telah ditanam bahan peledak dalam jumlah besar di titik-titik tertentu. Biasanya posisi bom terangkai dalam satu garis yang mengelilingi gedung. Lalu bom itu diledakkan secara bersamaan. Bom-bom harus dipastikan meledak secara simultan dan lancar. Tidak boleh ada yang macet. Kalau macet, penghancuran gedung bisa gagal. Metode ini biasa dilakukan untuk meruntuhkan gedung-gedung pencakar langit yang terletak di di tengah-tengah kota yang padat. Film-film dokumenter sering mengabadikan proses peledakan spektakuler itu.

Sebagai perbandingan, seorang pengikut David Coresh, pernah meledakkan sebuah truk berisi bahan peledak penuh di depan kantor FBI. Perbuatan itu dia lakukan sebagai balas dendam, setelah FBI menyerang markas David Coresh dan para pengikutnya. Tetapi lihatlah, apakah gedung FBI ketika itu hancur dalam sekejap? Tidak sama sekali. Hanya bagian depan gedung yang rusak parah, sementara bagian tengah, belakang, dan samping masih utuh. Ini membuktikan bahwa konstruksi gedung-gedung itu sangat kuat, tidak hancur sekalipun oleh truk yang penuh bermuatan bahan peledak. Dan tidak mungkin pesawat sipil yang tidak dilengkapi bahan peledak bisa menghancurkan dua menara WTC dalam sekejap.

Mungkin, para pendukung teroris akan berdalih, “Itulah bukti pertolongan Allah. Sesuatu yang tidak masuk diakal, bisa saja terjadi kalau Allah menghendaki.” Maka pernyataan ini saya jawab: “Kalau ia benar-benar hasil pertolongan Allah, berarti hal serupa bisa terjadi di banyak tempat. Tolong Anda buktikan kejadian yang sama di tempat-tempat lain, kalau Anda memang benar! Atau, tolong sebutkan satu saja bukti sejak era Perang Dunia II aksi terorisme yang mampu menghancurkan gedung-gedung pencakar langit hanya dalam sekejap.” Saya yakin, orang-orang itu akan diam seribu bahasa. Sebab mereka begitu mudahnya mengklaim suatu kejadian spektakuler dengan “pertolongan Allah”. Padahal yang membuat kejadian itu adalah “Dajjal masa kini”. Kok bisa, hasil kerjaan “Dajjal” disebut “pertolongan Allah”? Mungkin akal pikiran sudah terbalik, maka kesimpulan pun menyeleweng.

Opini yang dibangun selama ini, bahwa WTC hancur dalam sekejap oleh anak buah Usamah bin Ladin. Semua ini hanyalah kebohongan belaka. Jangan pernah percaya dan jangan mau dibohongi. Biarpun Usamah bin Ladin menangis darah untuk meyakinkan, bahwa anak buahnya yang telah melakukan aksi WTC 911 itu, jangan pernah dipercaya saudaraku!

Sejak saat ini marilah kita BERHENTI dari isu-isu terorisme. Abaikan isu-isu menyesatkan ini, dan fokuslah dengan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan Anda dan Ummat. Tidak mengapa kita memberi peringatan kepada Ummat agar tidak tertipu oleh aneka-rupa konspirasi. Peringatan itu insya Allah bermanfaat. Tetapi jangan memberi perhatian istimewa kepada isu-isu terorisme. Meskipun nanti muncul kembali 10 atau 20 kasus teror bom, sudahlah abaikan saja. Lebih baik kita tekun membaca Al Qur’an, banyak berdzikir kepada Allah, menambah ilmu-ilmu yang bermanfaat, memperkuat shilaturahim, serta selalu nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Berikut ini salah satu petunjuk Qur’ani untuk membebaskan diri dari berbagai macam tipu daya fitnah. “Dan siapa yang mengingkari thaghut –segala sesembahan selain Allah- dan dia beriman tauhid kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang kepada simpul tali yang sangat kuat, yang tidak akan pernah putus. Dan Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 256).

Dedikasikan hidupmu untuk mengibadahi Allah Ta’ala semata, baik ibadah yang bersifat khusus (ritual) maupun ibadah umum. Niatkan amal-amalmu untuk mencari ridha Allah dan mengikuti petunjuk Nabi-Nya dalam ibadah. Jangan menjadikan bagi-Nya sekutu dalam bentuk apapun. Maka saat itu engkau telah memiliki benteng pertahanan yang amat tangguh, yang tidak akan jebol oleh fitnah apapun. Andai usiamu panjang dalam keadaan seperti itu, hidupmu akan selamat dan bahagia. Namun andai usiamu pendek dalam keadaan seperti itu, engkau akan mendapati kematian yang mulia. Andai engkau berada di tengah keramaian, maka engkau tidak akan terhina atau diabaikan. Namun andai engkau dalam sepi, engkau tidak akan kecewa atau ditinggalkan oleh Allah. Dalam segala keadaan, orang-orang yang bertauhid kepada Allah, hatinya selalu dipuaskan.

Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin. Segala pujian hanya untuk Allah Ta’ala, dan segala nista dan kehinaan hanya bagi kekfiran dan kedurhakaan. Wallahu A’lam bisshawaab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: