Cukong Malaysia Merajalela di Beranda Republik

CUKONG MALAYSIA MERAJALELA DI BERANDA REPUBLIK

Jangan membayangkan patok perbatasan Indonesia – Malaysia berupa sebuah pilar beton yang mengikat deretan pagar kawat berduri. Jangan membayangkan pula, banyak aparat keamanan bersenjata lengkap yang menjaga ketat pagar perbatasan itu. Sebab, itu semua membutuhkan biaya besar.

Kini, batas wilayah antara Negara sudah bisa dipastikan dengan titik kordinat.sebagai tanda fisik biasa menggunakan patok.

Namun, pematokan batas Negara ternyata menuai masalah. Di perbatasan Indonesia dan Malaysia, khususnya di wilayah Kalimantan timur dan Sabah, batas patok terkesan di buat seadanya. Wujudnya hanya patok beton setinggi sekitar 30 cm, sehingga tak terlihat dari jarak jauh.

Sepanjang perbatasan yang membelah pulau Kalimantan dengan panjang lebih dari 2.004 kilometer tersebut membentang ribuan patok dengan berbagai jenis, mulai dari patok tipe A,B.C, dan D. Dari segi ukuran, patok-patok tersebut tidaklah jauh berbeda. Hal yang membedakan adalah lokasi dan jarak antar patok. Untuk patok jenis A, biasanya di jumpai berjarak antara 200 sampai 800 meter.

Tidak jarang, beberapa patok perbatasan diketahui rusak, seperti ditemukan di desa kanduangan, kecamatan Nunukan Utara, Kabupaten Nunukan, Kaltim. Patok bergeser atau rusak adalah cerita lama di sepanjang perbatasan.

Sulitnya medan menuju perbatasab pun membuat pengawasan yang seharusny rutin dilaksanakan menjadi masalah tersendiri. Tim SP yang megunjungi wilayahitu, membutuhkan waktu 1.5 jam perjalanan dari pelabuhan Tunon Taka, Nunukan. Perjalanan laut menyusuri sungai Ular, di lanjutkan perjalanan darat berbukit selama kurang lebih dari 2 jam. Untuk mencapai beberapa zona perbatasan di pedalaman membutuhkan waktu yang lama dan terkadang harus bermalam dalam perjalanan.

“Paling tidak enam sampai tujuh hari harus di tempuh personel bila ingin mencaoai pos-pos perbatasan yang ada di pedalaman. Jarak antara pos yang satu dengan yangf lain antara 10 sampai 20 kilometer, “kata komandan Satuan Tugas Pengamanan perbatasan Yonif 611 Awang Long, Letkol A Yudhi.

dengan yangf lain antara 10 sampai 20 kilometer, “kata komandan Satuan Tugas Pengamanan perbatasan Yonif 611 Awang Long, Letkol A Yudhi.

Udhi menuturkan. Banyak kendala untuk mengawasi perbatasan karena belum tersentuh layanan infrastruktur atau kondisi yang parah. Bila sudah mencapai tapal batas, Personel tentara Nasional Indonesia (TNI). Menggunakan system komunikasi GPS (global positioning system) untuk merekam posisi patok.

Seluruh data patok perbatasan di simpan dan di bandingkan dengan data terdahulu.: Ini dimaksudkan untuk mendeteksi bika ada perubahan posisi patok.”katanya

Sulitnya menjaga perbatasan sebagai “ Beranda Republik” melahirkan aktivitas ilegfal di kawasan tersebut. Sejak 30 tahun silam, jutaan ton kayu yang ada di perbatasan terkirim di berbagai penjuru dunia. Kondisi ini di perparah oleh keterbatasan sumber penghasilan masyarakat di perbatasan, sehingga dengan mudah diperalat oleh pemodal.  Banyak cukong, umumnya dari Malaysia. yang menyuplai alat berat dan memodali masyarakat Nunukan di perbatasan, untuk menebang kayu.

Tidak heran jika warga Simenggaris,sebuku maupun sembakung di Nunukan utara sangat akrap dengan sebutan “ jalan tikus “ untuk mengambarkan bagaimana para pekerja bersama toke-toke Malaysia meloloskan kayu . para cukong dan pemegang hak pengusaha hutan bisa menikmati ratusan juta ringgit dari penjualan kayu .

Kondisi ini jauh berbeda dengan warga Indonesia yang hidup di sekitar kawasan perbatasan . setelah kayu illegal semakin sepi, kini banyak yang bekerja menjadi buruh perkebunan sawit yang banyak tersebar di sepanjang perbatasan .

Menurut Ardiansyh, warga kandungan, keadaan di wilayah pedalaman perbatasan Indonesia tidak jauh berbeda sejak puluhan tahun silam. Yang sedikit membedakan adalah pesatnya perkembangan sawit yang di kelola beberapa perkebunan besar. Hamparan hutan kini beralih menjadi perkebunan sawit.

Dia menjelaskan, saat ini marak pengelola perkebunan nakal yang terus merambah pedalaman hutan perbatasan Indonesia. Kebanyakan, mereka membuka lahan dengan cara membakar hutan.

Tidak sedikit juga mengelola lahan tidur di zona bebas 400 sampai 800 meter dari garis nol perbatasan. Hal ini jelas melanggar kesepakatan dua Negara, yang menetapkan di alan zona bebas tersebut harus bebas dari segala aktifitas.

Dari pemantauan SP, cerita ardiansyah tersebut sangat masuk akal dengan kejadian awal November lalu, ketika kawasan ini sempat di hebohkan dengan di rusaknya patok perbatasan di sekitar perkebunan sawit PT Bumi Simenggaris Indah. Aktivitas alat berat di perkebunan yelah merusak patok. Tetapi, ada kecurigaan aktivitas di perkebunan sawit hanya menjadi kedok untuk merambah kayu asal Indonesia.

Informasi yang di peroleh SP juga menyebutkan ada pemodal asal Malaysia yang menggunakan orang Indonesia untuk mendirikan perkebunan besar di kawasan perbatasan. Pola ini di lakukan beberapa tahun silam untuk mengelabuhi berbagai aturan yang menyulitkan beroperasinya perusaan perkebunan asing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: